ANTARA SABAR – NGEDUMEL – IKHLAS – MENGUNGKIT

sekilapinfo_sabar

sekilap.info

Bukan sabar namanya jika masih ngedumel,

Bukan ikhlas namanya jika masih mengungkit.

“aku sabar kok, kalo engga mah udah aku marahin dia…” bla bla bla

“aku ikhlas kok meskipun udah dijahatin, aku udah maafin..” bla bla bla

Sering tanpa sadar terucap kata seperti ini!!! , Tapi inilah realita yang kualami

Ketika kita berucap seperti diatas secara tidak langsung pasti dalam hati masih ada sesuatu yang mengganjal.

Saya tidak munafik, saya pernah berkata demikian.

Apalagi dengan pekerjaan, pekerjaan baru ini jelas membuat saya menguras banyak energi untuk berpikir. Coba bayangkan, saya adalah seorang koki yang telah siap memasak beragam masakan namun saya tidak pernah tahu siapa penikmat masakan saya. Apakah bisa menjamin bahwa masakan itu dapat memuaskan pelanggan? Maybe “Yes”, Maybe “No”.

Pekerjaan ini tidak dapat direncanakan. Yang bisa saya kerjakan hanya menunggu, dan ketika adapun selalu menyalahi aturan. Kalau ada wasit pastilah saya sering kena kartu kuning karena melanggar. Aku ikhlas kok!!

Dan lagi rekan sekantor sering membuat saya geleng-geleng kepala. Bukan karena ditawari dan saya tidak mau, gelengan ini menandakan saya sangat pusying dibuatnya. Selalu ada saja ulah yang dibuat setiap hari. Tapi, yang menarik banyak perhatian saya sejak awal adalah rekan laki-laki saya di unit kerja. Sudah berkeluarga dikaruniai anak satu nan cantik, tapi kok masih sempatnya yaa memberi perhatian ke perempuan selain istrinya. Mulai dari belaian lembut di kepala, usapan manja di pipi, hingga melingkarkan tangan di bahu atau pinggang dengan penuh kedamaian. Hmmmm.. terenyuh saya melihatnya. Perlakuan itu hanya sebagian ringkas, tentulah masih banyak lagi insya Allah dilain kesempatan saya akan berbagi. Pemandangan yang senantiasa harus dinikmati setiap harinya.

Stop!! Dinikmati? Oleh siapa? Saya? Rekan saya? Atau yang lainnya?

Rekan saya ini memang genius, saking geniusnya semua pekerjaan dan perijinan rekan saya harus tahu dan mengerjakan. Kalau bisa rekan saya pula yang memutuskan segala sesuatu. Lantas untuk apalagi ada pembagian tugas jika pada akhirnya rekan saya yang mengerjakan? Kalau tidak, marah-marah gak jelas atau membebani tugas tidak sewajarnya. Kami manusia bukan robot kawan! Atau memanis-maniskan kata hanya untuk menarik simpatik. Hmm.. semacam drama kolosal namun tidak berkesudahan. Dan saya telah masuk kedalamnya. Yang jelas saya merasa tidak nyaman, sangat. Memuakkan. Aku sabar kok!!

Kita hidup di dunia ini terkadang merasa lebih mulia  dan lebih berharga  daripada orang lain. Hanya gara-gara satu kesalahan yang diperbuat orang lain yang tampak di depan mata kita, menjadikan kita merasa lebih baik dan lebih mulia sehingga kita merendahkan orang tersebut. Tidak cukup dengan merendahkan, kita pun berbangga ikut menyebarkan keburukan orang itu kepada orang lain.

Bisa jadi sih, atau mungkin saja ini adalah ujian yang Allah berikan kepada orang itu, sehingga Allah tampakkan kesalahan dan aib orang tersebut agar menjadi ujian baginya. Namun juga menjadi ujian bagi kita, dengan harapan dapat mengambil pelajaran dari apa yang tampak dari aib itu.

Sangat sulit menyadari bahwa suatu kesabaran dan keikhlasan itu berasal dari hati bukan dari lisan.

artikel kiriman dari  T.I.A.R.A

Leave a Reply