Bantulah orang yang kesusahan, minimal dengan menghibur dan mendoakannya

TWEET JUM’AT, Gus Mus (KH. Mustofa Bisri),

TWEET JUM’AT, Gus Mus (KH. Mustofa Bisri),yang saya tulis kembali dengan gaya bahasa saya,yang isi dan maknanya sama dengan apa yang di tulis oleh Mbah Mus

Dalam hal saling membantu semua orang punya potensi untuk melakukannya, tanpa bantuan orang lain tidak ada manusia yang bisa, dari lahir sampai mati pun kita semua membutuhkan bantuan orang lain.

Saat lahir kita dibantu oleh dokter,bidan atau dukun bayi, pakaian yang kita gunakan sehari-hari inipun hasil bantuan orang lain, Ketika kita matipun, keranda yang mengangkat dan membawa ke liang lahat adalah orang lain juga.

Ada sebuah hukum pasti,yaitu hukum kausalitas. Kalau ingin dihormati maka hormatilah. Kalau ingin dibantu maka banyaklah membantu. Kalau ingin disayang menyayangilah,silahkan dicari sendiri yang lainnya.

Kalau anda pimpinan, bos, direktur, atau apalah namanya, ketika pembantu bekerja pernahkah anda melihat? Bantuan apa yang diberikan kepada anda ? Tepat sekali. tenaga,pikiran atau ide-idenya. apa yang anda berikan ? ya, gaji, materi, yang memang dibutuhkannya. Namun demikian, ada yang lebih indah dan lebih istimewa dari sebatas hukum kausalitas itu.

“Membantu kepada orang yang membutuhkan bantuan tanpa mereka harus membantumu dahulu.”

Bantuan,pertolongan dan kebaikanmu, akan lebih membekas dalam hati mereka, dalam setiap doa mereka namamu akan disebut. Sampai batas yang tiada batas semua kebaikanmu itu akan dikenangnya.

Saya teringat nasehat K.H. Fuad Habib yang dinukil dari kitab ‘Idhotun Nasyiin buah karya Syaikh Mustofa Al Ghulayn.

اَحْسِنْ اِلى النَّاسِ تَسْتَعْبِدْ قُلُوبهُمْ
وطَالَ مَا اسْتَعْبدَ الاِحْسَانُ اِحْسَانَ

“Tebarkanlah kebajikan kepada manusia, niscaya hati mereka akan terikat dengan kebajikanmu. Kebajikanmu akan bertahta lama dalam istana hati mereka”

Mungkin bantuan yang kita berikan hal yang kecil dan sepele di mata kita. Tapi terasa istimewa bagi orang yang menerimanya. Kita yang setiap hari bisa makan nasi putih, bisa jadi itu adalah hal yang biasa, tentu itu adalah nikmat yang luar biasa bagi orang yang seminggu sekali atau sebulan sekali baru bisa menikmatinya, bantuan yang menurut kita sepele itu akan terus membekas dalam sanubarinya.

Semua orang bisa membantu sesama. Terutama membantu orang yang sedang dirundung duka. Minimal, bantuan itu adalah dengan menghibur dan mendoakannya. Jangan sampai orang yang berduka semakin tenggelam dalam duka karena tak ada satupun orang yang menghiburnya.

Di hati sesamanya orang yang suka membantu akan memiliki tempat sendiri. Kehadirannya akan disambut dengan suka duka dan ketiadaannya akan dirindukan. Kematiannya akan dikenang selama-lamanya.

Siapa yang berbuat kebaikan dia yang akan mendapatkan kebahagiaan,hal itu sudah menjadi hukum alam, siapa yang membantu pasti akan dibantu. Kehadirannya akan selalu dirindu ga peduli sekontroversial apa pun jalan fikirnya, ketika deru nafasnya, detak jantungnya, dan denyut nadinya adalah membantu.

Masyarakat tidak lagi mempersoalkan agamanya apa, kewarganegaraan mana, sukunya apa, dan seterusnya. Tetapi bukti nyata dari nafas kemaslahatan yang didermakan. Masyarakat sudah cerdas dalam melihat dan merasakan ketulusan bantuan seseorang. Masyarakat tidak lagi terpengaruh dengan sekat-sekat asasi atau far’i, pokok atau cabang dalam menilai ketulusan seseorang.

Almarhum Gus Dur, satu dari sekian manusia yang mampu berbuat tanpa melihat sekat. Dia rela dicap sebagai kafir, musyrik, liberal, komunis, dan label-label negative lainnya demi memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan dalam berbangsa. Gus Dur terus bergerak. Gus Dur terus berjalan sesuai dengan apa yang diyakininya. Orang yang kesusahan Ia datangi dan menghadirkan “pementasan” hiburan dengan nasehat ataupun bantuan nyata. Ia berikan makanan  kepada orang-orang kelaparan yang termonitor dalam radarnya.

Tak heran ketika Gus Dur wafat, orang-orang lintas agama, budaya, etnis, dan strata sosial memberikan penghormatan yang istimewa, masyarakat berdiri memberikan penghormatan terahir sepanjang jalan yang dilalui mobil jenazahnya. Yang merasa kehilangan bukan hanya bangsa Indonnesia. Tetapi juga bangsa-bangsa di dunia. Yang merasa kehilangan bukan hanya umat Islam. Tapi juga non muslim.

Seperti dikisahkan oleh Gus Mus,K.H. Maemoen Zubair seorang kiai sepuh pengasuh pesantren Sarang, sempat mempertanyakan,Gus Dur memiliki amaliah apa, sampai-sampai umat mencintainya demikian dahsyat. Reflek Gus Mus menjawab, orang-orang mencintai Gus Dur karena Gus Dur juga mencintai orang-orang.

Dalam bentuk bantuan nyata ,Cinta Gus Dur dituangkan. Sebagai sayyid Gus Dur memerankan peran khodim yang utuh. Ia memahami bahwa seorang pemimpin harus menjalankan roda kepemimpinannya dengan adil. Meskipun Gus Dur tidak menjadi pemimpin struktural sebuah negara.

Dalam merawat kerukunan umat manusia perannya cukup signifikan. Kalau sudah demikian hal-hal yang berbau struktur menjadi tidak penting jika tidak mampu difungsikan sesuai tupoksinya.

Apa yang telah diwulangkan Gus Dur sejatinya bersumber dari nasehat orang yang dicintai dan berusaha ditauladaninya, Rasulullah saw.

خَيْرُ النَّاسِ اَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi sesama manusia”

اَحَبُّ الْعِبَادِ اِلى اللهِ تَعَالَى اَنْفَعُ النَّاسِ للنَّاسِ

“Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang lebih bermanfaat bagi sesama”

Yang ditauladankan oleh Rasulullah saw dan apa yang dilakukan oleh Gus Dur dan masih menjadi kisah kekaguman. Hanya segelintir orang yang mau menjadi anfaun naas tanpa melihat sekat. Di tangan umat Islam ada “Pekerjaan rumah” besar. Sebab umat Islam adalah orang yang layak menjadi pelopor anfa’un naas ! Umat Islam haruslah menjadi sayyid yang khodim.

“Mbah Mus rembang”

Ditulis ulang oleh saya,dengan inti dan makna yang sama

_salam_
“tembangtafakuran”

Leave a Reply