Begini Karenamu, Percaya kan ? Hidup Itu Perlu Proses

beginikarenamu

sekilap.info

 

artikel kiriman dari shinju.aka.Mutiara

Pernah menemukan sepasang mata yang kehilangan pijarnya?

Ku rasa, saya pernah melihatnya di depan cermin.

Saya belum banyak belajar arti kehidupan. Sejauh ini hanya terbiasa belajar untuk tidak menilai orang lain dari apa yang mengalir di tubuhnya, dari elok atau buruk fisiknya, dari setinggi apa derajat sosialnya. Saya belajar dari sini !

Sejak SMP saya semangat menjalani hari. Penuh gairah selayaknya siswa ABG lain. Saya berusaha tidak pernah mengeluhkan kondisi pada saat itu. Tapi setelah bertahun terlewat, perubahan dalam hidup seolah semakin membutakan. Pertanyaan-pertanyaan semakin menyiksa dari hari ke hari. Hay…!!! mungkin bagi alam ini hal sepele. Logikanya saya tidak setangguh IRON MAN pun tidak sekokoh TEMBOK CHINA. Karang di laut pun akan terkikis nantinya, tinggal menunggu waktu saja.

Lelah kah ? jujur “IYA”. Tetapi, setiap kali saya ingin BERHENTI, HATI meminta untuk BERJUANG LAGI dan LOGIKA selalu berkata “masa cuma segini ?”. Dan, akhirnya saya kembali. Teringat wejangan *nasehat, saudara pada saya, “air mengalir karena kita mengikuti alur. Kita tau kok dimana dan akan seperti apa. Dan air itu punya prinsip. Di taruh, dialirkan kemanapun, dia akan tetap air.”

Do you agree, guys? I think so. J

Until, saya menjumpai dua kata ini, Bertahan dan Berjuang,

Kata-kata ini lah yang saya jadikan motivasi dalam hidup. Karena orangtua lah saya memang mampu berjuang hingga detik ini. Kerap masihlah aku mengeluh dengan banyaknya tugas kantor?? Atau masalah yang sedang saya hadapi? Atau sekedar lika liku kehidupan masa peralihan ini??

Cobalah,

Saya ajak merenung sejenak “aku” dalam diri ini, memikirkan apa yang sudah dapat saya berikan kepada bunda dan ayah. Sudahkah saya membuat mereka bahagia dengan senyuman dan air mata bangga ? atau malah membuat keduanya sedih ? nyatanya saya belum mampu. Ketika saya sakit hati atas perkataan orang lain, saya pun tidak mampu untuk berdiam diri menguraikan pemecahan dari hal itu sendirian. Pada akhirnya, senyuman bunda yang saya cari. Semacam obat penawar yang membuat saya sakaw.

Saya mengerti, Orangtua berjuang mati-matian demi anaknya. Bekerja hampir tidak mengenal waktu. Pagi, siang dan malam. Untuk apa ?

Untuk sekolahnya. Demi impian dan cita-cita buah hatinya. Adakah rasa terimakasih yang sudah di ucapkan bibir ini. Rasa kasih sayang. Rasa hormat kepada mereka. Berbakti pada mereka wajib hukumnya bagi saya, sebab orangtua salah satu pembuka pintu rezeki yang teruji. Berbakti pada mereka pun perintah Allah. Menjalankan perintah Allah itu enggak lama kok, menurut versi saya. Cuma sampai saya mati saja. Kalau besok saya mati, yaa sudah! Cuma sampai besok. Disinilah orangtua adalah alasan saya untuk BERJUANG. Saya adalah alasan bunda dan ayah untuk BERTAHAN.

 

Allah, Maafkan.

Untuk begitu banyak salah dan kekecewaan yang mungkin saya goreskan, Untuk-Mu.. untuk bunda dan ayah.. Maafkan…. “saya mohon, tetap beri saya kekuatan juga waktu dan kesempatan. Agar saya tak hanya terus bermimpi”.

Ayah, semoga disejahterakan hingga akhirat nanti yaa..

Bunda, semoga setiap air mata yang jatuh dari matamu atas segala kepentinganku menjadi sungai untukmu di Surga nanti.

Artikel dari -shinju- .aka. Mutiara

One Response

  1. Johne62 November 8, 2016

Leave a Reply