BERSYUKUR AJA DULU, NANTI JUGA BAHAGIA

bersyukur

Akhir bulan kemarin saya ketiban nikmat. Nikmat yang amat sangat luar binasa. Entah peristiwa apa itu, rasanya saya tidak ingin lagi mengingatnya, tapi kok dalam setiap isi kepala yang saya ingat hanya itu dan itu. Entah dalam hal apa itu, saya ingin mengingat semua detilnya tapi dalam kepala ini perlahan buyar entah kemana.

Saya hanya berusaha mengingat dan melupakan. Dan semua itu, lagi-lagi waktulah yang akan menjawab. Ada yang ingin dilupakan saya malah mengingatnya. Ada yang ingin diingat saya malah melupakannya. ??????

Saya tidak ingin menghakimi manusia yang lain. Tapi saya hanya tahu diri ini salah satunya. Karena saya juga manusia. Tidak masalah jika saja saya dipanggil pendusta. Setidaknya saya jujur karena saya juga termasuk manusia yang banyak berdusta. Terutama tentang nikmat dari Allah.

Saya banyak tidak mensyukuri. Malah merasa kurang. Padahal jika dipikir, apa yang kurang dihidup ini? Jawabannya nothing, tidak ada!!

Pada posting kali ini saya tidak ingin menjelekkan, menggurui atau dengan konotasi negatif lainnya. Manusia itu banyak inginnya. Sebab itu dia jadi berdusta. Bila menginginkan kenikmatan dunia menjadikan dustalah jalannya.

Tetapi jika menginginkan kenikmatan di akhirat dan dunia, maka jadikanlah jujur jalannya. Kenapa ada dua nikmat oleh kejujuran? Sebab menurut saya jujur adalah kebaikan dan kebaikan memberi rasa aman dunia akhirat.

Saya harus menentukan jalan sekarang. Apa masih mau jadi pendusta? Sebab nikmatnya dusta di dunia adalah semu belaka, ia bahagia yang tiada arti, hanya menambah masalah.

Jika kepada Allah saja saya mendustakan nikmat-Nya, bagaimana dengan kepada sesama manusia? saya yakin pastilah sudah banyak kata dusta keluar dari mulut saya ini.

Bukan, bukan saya menulis pada kesempatan kali ini karena anda bahagia saya lantas menginginkan ketidak bahagian anda terjadi. Sama sekali bukan begitu maksud saya.

Mungkin hati ini saja yang masih ada penyakit. Saya harap anda memakluminya. Saya sedang dalam situasi menata hati. Menata menjadi baik, menghilangkan penyakit di hati.

Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya rasa mungkin tidak hanya saya saja yang terluka, ada yang lain. Dan takutnya kebahagian yang anda tunjukkan mengundang dosa, karena mereka mendoakan keburukan pada anda, semoga hal itu hanya ada dipikiran saya.

Saya tidak iri, saya hanya peduli. Walau saya terluka, tapi setidaknya saya menyampaikan dan saya juga mendoakan agar anda bahagia selalu.

Sebab saya hanya manusia yang sedang menata hati untuk menjadi baik dan iri adalah musuh hati yang baik. Lalu dengan apa hari ini saya tutup? Lalu dengan apa hari esok saya buka? Melupakan yang ingin dilupakan, atau mengingat yang ingin diingat.

Sekali lagi, saya harap anda memaklumi dan memaafkan saya, karena ceplosan saya ini. Maafkan atas khilaf dan terimakasih sudah mengingatkan.

 

“by : t.i.a.r.a”

Leave a Reply