Menyikapi Kisah “Bid’ah Ndasmu”

mbahmus_rembang

Beberapa hari ini di dunia maya diramaikan dengan adanya cuitan dari aku twitter Pandu Wijaya (@panduwijaya),dimana cuitannya menurut saya pribadi bernada kasar dan bahkan meremehkan yang ditujukan kepada Mbah Mus (K.H Mustofa Bisri).

Siapa sih pandu wijaya ini??dia adalah seorang karyawan di  PT Adhi Karya,dan bagaimana cuitannya silahkan google sendiri saja yaa,karena disini saya hanya akan membahas respon dan tanggapan dari Mbah Mus dan Juga sedikit ulasan dari pemahaman saya.

Menanggapi cuitan tersebut Mbah Mustofa Bisri terkesan santai,tanpa emosi yang meledak-meledak,bahkan tanpa ingin menuntut orang yang sudah melecehkannya tersebut.

Beliau memberikan petuah melalui akun facebooknya yang bernada menyindir dari cuitan yang di lontarkan pandu wijaya

“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan. :-,” kata Gus Mus yang diposting pada Rabu (23/11/2016) pukul 22.30 WIB.”

Jika melihat 2 cuitan dari saudara pandu ini,menurut saya memang sangat tidak sopan,apalagi di tujukan kepada seorang ulama seperti Mbah Mustofa Bisri,apa mungkin dia merasa sudah lebih alim dari Mbah Mus,sudah merasa ilmunya lebih dari Mbah Mus???

Atau hanya karena baru mengerti arti tentang beberapa ayat dan hadits langsung berani menyerang ulama,dan parahnya lagi,ayat dan hadits yang di pelajari hanya dari pesantren al-googleiyah.

Padahal saudara pandu ini tergolong orang berpendidikan,tetapi kenapa logika berpikirnya se enak udelnya sendiri.apa mungkin akalnya sudah tidak masuk..??

Jika dia merasa itu guyonan,itu ada batasannya,bukan asal guyon tanpa melihat siapa yang di ajak guyon,dan dalam kondisi seperti apa,guyon juga harus dipikirkan dan ber hati-hati.

Ndilalah Mbah Mus orang bijak,berakhlak mulia,beliau mau memaafkan bahkan menjamu mas Pandu ini,ketika datang ke kediaman Mbah Mus di rembang,dan Beliau pun meminta kepada perusahaan tempat mas pandu ini bekerja untuk mencabut SP3 yang telah di berikan kepada mas pandu ini.

Dari sini haruse mas Pandu ini belajar dan memahami,orang seperti Mbah Mus inilah aseli ulama,asli benar-benar paham tentang apa itu agama,karena siapapun anda bagi Mbah Mus,anda juga masih umat Kanjeng Nabi Muhammad,yang harus saling ingat mengingatkan,dan harus di benarkan jika belum benar.

Betapa Mulia nya sifat seorang Mbah Mus,dengan kedalaman dan pengetahuan beliau tentang agama,beliau menyikapi hal ini dengan rendah hati,penuh kesabaran dan kasih saying,seperi seorang bapak/ayah kepada anaknya.

Seumpama ketika mas pandu bertemu Mbah Mus,terus di ajak debat soal cuitannya hingga dasar hukumnya secara agama…piyeee jall???opo ora isin dan kisinan….
tetapi Beliau dengan kasih sayangnya tidak melakukan hal itu kan.

Dan menurut saya,inilah ciri seorang alim,seorang yang bisa menjadi panutan,dan yang jelas,ciri ulama aswaja yang selalu melihat dan memahami sebuah masalah dengan banyak cara dan sudut pandang.

Menurut saya pribadi,dari salah satu kejadian yang terekspos ini,kelihatan dengan jelas dan gamblang,bagaimana sikap dan tingkah laku seorang Ulama yang benar Ulama,Ulama yang patut menjadi panutan umat bukan menyesatkan umat,dan Ulama yang tidak memakai Umat untuk mendapat Amanat.

Kejadian ini hanya salah satu dari banyak kejadian yang sebenarnya yang tidak terekspos yang bahkan lebih kasar dan lebih melecehkan,tapi beliau dan para ulama yang benar,hanya diam dan tersenyum menyikapinya,bukan malah berteriak lantang untuk menantangnya.

“Mbah Mustofa Bisri,mugi-mugi panjenengan selalu di berikan kesehatan dan keselamatan hingga dapat selalu membimbing dan menjadi panutan umat”

_salam_
“by civo”
hanya seorang yang suka berMaiyah

Leave a Reply