Cangkul Aja Kita Impor

cangkul_sekilapinfo

sekilap.info

Sudah lama sekali negeri kita ini menjadi negeri pengimpor, yang mengakibatkan hampir tidak ada produk lokal yang bisa bertahan karena tergerus oleh barang-barang hasil impor yang dilepas ke pasaran,dengan hargan yang cenderung lebih murah. Tidak hanya impor soal daging, beras, kedelai, ataupun gula, bahkan hampir  di semua sektor dan kebutuhan hidup kita lebih diarahkan untuk membeli barang impor. Walaupun banyak dari hal itu yang menjadi sebuah dilema dan polemik di masyarakat, namun tetap saja segala sesuatu yang impor , seakan menjadi semacam “trade off” yang keputusannya seringkali atau bahkan sama sekali tidak diketahui masyarakat umum. Namun, ketika barang-barang impor itu semakin banyak membanjiri pasar, barulah kita menyadari bahwa sebenarnya seluruh barang-barang yang kita pakai dan pergunakan ternyata produk impor, bukan produk lokal hasil dari olahan bangsa kita sendiri. Dan yang aneh menurut saya adalah,saat ini ada fenomena CANGKUL impor yang sengaja didatangkan dari Cina, yang semakin menggeser produk cangkul lokal bahkan mengakibatkan banyak industri cangkul lokal atau pandai besi pembuat cangkul harus gulung tikar akibat tak mampu bersaing dengan cangkul impor.

Saya kira, sangat aneh rasanya ketika negeri kaya dan subur seperti Indonesia, segala sesuatunya harus diukur melalui impor, hanya dengan satu alasan klasik yaitu stok dalam negeri yang tidak mencukupi. Apa sudah tidak mampu bangsa ini,industri lokal untuk memperbanyak produksinya? Apakah karena tenaga kerjanya kurang memadai? Ataukah bahan bakunya sulit didapat atau sudah tidak ada? Ataukah memang orang-orang yang sudah malas dan tidak mau bekerja keras sehingga lebih suka instan memanfaatkan yang sudah ada? Tetapi memang nampaknya, impor menjadi alasan sebagai bagian dari sebuah permainan dagang “tingkat tinggi” yang dapat membagi keuntungan, tanpa memikirkan efek yang di timbulkan,keuntungan itu tidak hanya untuk negara, tetapi para pejabat, pengusaha dan juga para makelar lainnya. Impor memang lebih menjanjikan untuk mendapatkan keuntungan yang besar dan lebih banyak dibanding dengan bersusah payah menggerakkan atau mengembangkan industri lokal yang ada,yang tentunya mengeluarkan biaya yang besar.

Dan bisa di tebak yang selalu menjadi tujuan utama Indonesia dalam soal impor barang adalah Negeri Tirai Bambu,yaitu Cina, karena selain harganya lebih murah, barangnya lebih banyak ,bentuk atau model yang lebih bervariasi dan lebih cepat didapat. Harga cangkul impor ini dijual kisaran harga Rp 9000 perbuah ,walaupun kualitasnya rendah, ini menjadi keuntungan tersendiri bagi toko-toko bangunan atau material. Bagaimana tidak, menjual cangkul Cina dengan harga murah, lebih banyak memberikan keuntungan dibanding menjual cangkul lokal dengan kualitas baik tetapi keuntungannya sedikit atau kecil. Kita semakin hari semakin terbiasa dengan fenomena seperti ini, negeri yang lebih suka dengan barang impor dan menolak barang lokal. Ironi memang,di negeri yang katanya kaya ini,dengan julukan zamrud khatulistiwa, negeri yang konon katanya disebut agraris karena luasnya lahan pertanian dan perkebunan, alam yang subur, dan dengan jutaan sumber daya alamnya, tapi malah membeli cangkul dari negeri orang yang belum jelas kualitasnya dan tidak percaya dengan kualitas cangkul buatan dalam negeri sendiri.

_salam_

Leave a Reply