Jangan Takut Dirasani (digunjing)

dirasani

Setiap orang pasti pernah merasakan jadi bahan pembicaraan orang lain,kalau istilah yang lebih banyak dipakai di lingkungan saya yaitu dirasani kalau menurut bahasa Indonesia sih digunjing (maaf kalau salah).

Kenapa kita bisa dirasani atau jadi bahan pembicaraan orang lain,itu bisa saja karena adanya rasa iri,dengki atau bahkan ingin menjatuhkan,tetapi bisa juga karena ada suatu perbuatan yang kita lakukan yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi disekitar atau lingkungan kita.

Manusia pada umumnya lebih suka memperhatikan gerak gerik dan perbuatan orang lain,daripada intropeksi pada diri sendiri,membicarakan hal-hal baik dari orang lain,tetapi kebanyakan adalah membicarakan keburukan orang lain,dan itu realita yang lazim terjadi di lingkungan kita.

Kebanyakan orang melihat apa yang kita lakukan hanya dengan penglihatan nyata,tanpa mau meneliti lebih dalam,apa yang sebenarnya di kerjakan.Dan dengan PeDe nya mereka mengatakan a-z apa yang hanya mereka lihat,tanpa mereka ikut secara langsung apa yang sedang kita kerjakan.

Mereka tidak mengetahui secara pasti sedang apa dan kenapa,dan tanpa berpikir panjang langsung menghakimi,berbeda lagi jika yang membicarakan adalah orang yang berilmu ( orang yang benar-benar meneliti dahulu ).

Sebagai contoh yang sering saya sendiri rasakan adalah tentang kerjaan saya,dimana saya bekerja sebagai staff  IT di sebuah perusahaan,dimana banyak orang di lingkup kerja saya yang mengatakan bahwa

“kerjanya enak,Cuma duduk depan komputer”

“sengsara apa,wong kerjanya Cuma duduk tanpa berkeringat”

“enaknya kerja Cuma jalan-jalan dan mondar mandir kesana kemari”

Dan masih banyak lagi gunjingan yang sering saya terima,bahkan ada yang secara langsung mengatakan hal itu kepada saya dan rekan-rekan kerja staff IT yang lain.

Bagi saya dan rekan-rekan itu adalah hal wajar karena mereka tidak tau apa yang sesungguhnya kita kerjakan,tetapi pembicaraan itu jadi bahan pembicaraan juga diantara para pekerja lain divisi,mereka membandingkan kerja yang kami lakukan,mengkritisi kearah ingin menjatuhkan,belum lagi di tambah bumbu-bumbu penyedap yang menambah rasa menjadi sedap….hingga membuat opini bahwa kami bekerja seenaknya sendiri,atau bahkan bisa dibilang malah cenderung tidak pernah bekerja,dan makan gaji buta.

Hal seperti ini yang seharusnya diluruskan,setiap pekerjaan apapun itu bidangnya pasti punya kesulitan dan itu hanya bisa dirasakan jika kita melakukan pekerjaan tersebut,bukan hanya dengan melihat.

Jadi jangan pernah takut dirasani , karena orang yang suka melakukan itu kebanyakan adalah mereka yang iri dengan apa yang kita kerjakan,semakin sering kita dirasani,berarti semakin kita lebih baik dari mereka (atau malah bisa kebalikannya).Dengan dirasani,menurut saya,itu adalah suatu rejeki dan hidayah dari Allah S.W.T,karena masih ada orang yang diberi kesempatan buat ngrasani tentang diri kita.

Dari sering dirasani,kita bisa intropeksi diri,apa saya salah…apa tindakan saya ini tidak benar dan tidak wajar,dan masih banyak lainnya,yang bisa membuat diri kita menjadi lebih paham dan mengerti.

Mungkin akan berbeda jika kita dirasani tentang kelemahan dan keburukan kita,yang sebenarnya belum itu apa yang mereka bicarakan(rasani) itu belum tentu benar,dan hanya ingin menjatuhkan (sudah saya uraikan diatas),mereka tidak sadar,jika apa yang mereka lakukan itu justru menambah energy dan kecintaan mereka kepada kita.

Lha kok bisa,yaa jelas bisa donk….mereka tanpa bosan,tanpa lelah hanya membicarakan tentang kita,dan mereka secara tidak langsung selalu ingat pada diri kita,nah itulah sebabnya mereka sebenarnya perhatian pada apa yang kita lakukan,ini merupakan sebuah energy yang tidak mereka sadari,mereka berikan pada diri kita.

Dan yang ingin saya tegaskan disini adalah,jangan takut dirasani ,karena itu adalah sebuah rejeki,hidayah dan anugrah yang tak ternilai yang diberikan Allah S.W.T kepada hambaNYa yang terpilih,diberikan melalui pikiran,pandangan,dan ucapan orang-orang yang suka ngrasani dan membicarakan kita.

 

_salam_

Leave a Reply