Ing Ngarsa Ngusung Bandha,Keserakahan Karena Kekuasaan

Ing Ngarsa Ngusung Bandha

Sebenarnya ini adalah plesetan dari falsafah jawa yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha,yang makna sebenarnya kurang lebih adalah ketika berada di depan memberi contoh atau teladan, keteladanan yang patut di contoh tentunya mengacu pada hal-hal yang baik,sifat terpuji dan budi pekerti yang luhur. Dimanapun tempatnya seseorang yang berada di depan harus bisa menjadi contoh dan teladan bagi yang berada di belakangnya.

 

Pemimpin Menjadi Teladan Bagi Yang di Pimpin

 

Orang yang berada di depan dalam situasi dan lingkungan apapun biasanya berkedudukan sebagai pemimpin,bisa di lingkungan kerja, lingkungan sekolah,lingkungan sekitar,dan lain sebagainya,dalam hal ini seseorang yang telah dipilih untuk menjadi pemimpin haruslah orang yang punya tanggung jawab tinggi,bisa di percaya,memiliki kemampuan dan moralitas yang tinggi.

Kemampuan bukan hanya dari mampu dalam bekerja ataupun bersosialisasi,tetapi juga mampu secara batiniah yaitu kejujuran dan mempunyai mental yang teruji dan juga terpuji,orang yang menjadi pimpinan haruslah bisa menjadi contoh dan teladan yang baik,sehingga bisa menjadi panutan bagi semua yang dipimpinnya dan akan membuahkan hal yang positif dalam lingkungannya.

 

Mengumpulkan Harta dan Kekayaan

 

Seperti sindiran pepatah diatas,”Ing Ngarsa Ngusung Bandha” yang jika diartikan adalah, yang di depan membawa harta/mengangkut harta,entah membawa,mengangkut,mengumpulkan ataupun makna lain yang lebih pas,tetap saja hal itu mengandung makna yang negatif.

Kenapa dikatakan negatif,karena yang di depan atau yang menjadi pemimpin,memanfaatkan kesempatan itu untuk mengumpulkan harta dan kekayaan sebanyak-banyaknya,untuk dirinya pribadi dan golongannya tanpa memperdulikan orang lain atau orang yang di pimpinnya. Kesempatan menjadi pemimpin di manfaatkan secara maksimal untuk mengejar kekayaan dan bertindak yang tidak baik demi mengumpulkan harta. Ini sebuah realita kehidupan yang banyak terjadi disekitar, yang mau diakui ataupun tidak,hal ini ada dan terjadi, dan terkadang hal ini malah dicontoh, dan dibudayakan.

Sebenarnya “Ing Ngarsa Ngusung Bandha” merupakan sebuah sindiran yang tajam mengenai penyalahgunaan kekuasan demi kepentingan dirinya sendiri ataupun golongannya.

Menjadi pemimpin di sebuah perusahaan,jika itu milik sendiri tentu tidak ada salahnya jika san pemimpin mendapatkan keuntungan besar dari perusahaannya,dan tentunya keuntungan ini akan menjadi milik pribadi,hal itu tidak akan ada yang mengganggu gugat,tentunya sepanjang sang pemilik perusahaan memenuhi kewajibannya dengan memberi gaji yang layak dan sesuai dengan aturan pemerintah.

Hal ini akan berbeda jika yang menjadi pemimpin bukan sang pemilik perusahaan,akan membawa masalah yang besar jika membawa uang perusahaan di luar gaji yang di terimanya,dan resikonya bisa berhadapan dengan hukum jika terbukti.

 

Menjadi Pemimpin Bukan Sekedar Menjadi Yang Di depan

 

Pemimpin apapun dan dimanapun itu entah di instansi pemerintah,di lingkungan kerja,mulai dari yang terbawah sampai yang teratas itu ada karena dibutuhkan. Dengan cara apapun,menjadi pemimpin bukan hanya sekedar sebuah proses naik ke tampuk tertinggi dalam sebuah wilayah ataupun lingkungan,lalu dengan seenaknya menjalakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan sesuka hati,melindungi golongannya dengan cara apapun,dan banyak lagi tentunya.

Tanggung jawab seorang pemimpin adalah bisa menjadi contoh dan teladan yang baik, bisa memberikan solusi terbaik,menegur jika ada suatu kesalahan,dan bahkan bisa menyejahterakan orang yang dipimpinnya,dengan cara yang benar tentunya. Jadi bukan asal menjadi pemimpin terus seenaknya sendiri dan berbuat sekehendak hati demi pribadi dan golongan.

Orang yang sudah dijadikan pemimpin sudah sepantasnya lebih mementingkan pada yang dipimpinnya,karena secara arti lebih luas,seorang pemimpin itu ibaratnya adalah seorang pelayan,yang harus memberikan yang terbaik pada yang dilayani, jadi karena berada di depan,sudah semestinya bimbinglah dan berikan yang terbaik untuk yang ada di belakang.

 

_salam_
“tembangtafakuran”

 

Leave a Reply