Keyakinan Boleh Beda Kerukunan Harus Terjaga

Keyakinan Boleh Beda Kerukunan Harus Terjaga

Ketika saya sedang duduk bersama mengikuti acara maiyahan bersama Mbah Nun, dimana tempat orang-orang yang belajar akan pelajaran hidup dan tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar tanpa membedakan.

Saya ingat akan sebuah pertanyaan dari Mbah Nun untuk semua yang hadir,memang sepintas kelihatan lucu dan tak berbobot,tetapi ketika di cerna lebih jauh,pertanyaan tersebut begitu mengena di hati setiap orang dan jama’ah yang hadir,kurang lebih begini pertanyaan beliau yang saya ingat ;

Mbah Nun : ”Apakah anda-anda semua ini punya tetangga?”

Hadirin : “Tentu saja punya”

Mbah Nun : “Punya istri enggak tetangga Anda?”

Hadirin : “Ya, jelas punya dong”

Mbah Nun : “Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?”

Hadirin : “Pernah,tapi secara khusus belum…hehehe”

Mbah Nun : “Jari-jari kakinya lima,tujuh,atau malah punya kutu air?”

Hadirin : “Tidak tahu,karena tidak pernah memperhatikan”

Mbah Nun : “Cantik dan Bodynya sexy enggak?”

Nah disini kami semua Hadirin tertawa. Dan Mbah Nun pun melanjutkan tanpa menunggu jawaban dari kami semua:”Cantik,Sexy atau tidak bukan urusan kita,kan?Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja”.

Keyakinan dalam memeluk agama orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Tidak usah diomong-omongkan, ndak perlu untuk dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih baik,unggul atau apapun itu. Tentunya, masing-masing suami punya penilaian sendiri terhadap istrinya seperti ini ataupun itu dibanding dengan istri tetangganya, tapi semua itu cukuplah disimpan didalam hati,nggak perlu untuk diumbar atau diucapkan.

Pendapat bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Karena sebab itulah dia menjadi orang non-Islam,jika dia mempunyai anggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar kenapa juga dia jadi non-Islam? Demikian juga sebaliknya, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.

Jadi semua itu, seperti istri tetangga tadi,cukup disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran,karena Keyakinan Boleh Beda Kerukunan Harus Terjaga

Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri yang menurut mereka cocok dan bagus, jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istri pilihannya masing-masing, nggak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya,sexy bodinya karena Bapaknya gagah,ibunya semok dan dulu sunatnya pakai calak nggak pakai dokter, begitu perumpamaannya.

Untuk lebih jelas dan gamblangnya seperti ini, teologi dan keyakinan agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan taat pada keyakinannya masing-masing.

Suatu contoh ada orang muslim yang mau melahirkan padahal motor untuk mengantar ke rumah sakit atau bidan gembos atau tiba-tiba rusak, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit ataupun bidan(jika kebetulan tetangganya beragama lain). Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena bajuyang mau dipakai misa kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah,atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya,itu kan terasa indah tho…

Tidak ada masalah kok tetangga-tetangga itu dari berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama dibidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi dan menjaga koridor teologi dari keyakinan masing-masing. Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa touring bareg,bahkan bisa main gaple dan remi bersama.Nah bukannya semua itu hal yang indah dan penuh kedamaian.

Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapipun kita bisa bekerja sama nyingkal dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dangan hati. Itulah maiyah. (EAN)

Tulisan ini saya rangkum dari perkataan Mbah Nun di saat tadabburan jika ada kurang lebihnya mohon maaf,semoga bermanfaat

 

_salam_
“tembangtafakuran”

Leave a Reply