Kita ini Hanya Memakai bukan Memiliki

kita hanya memakai_sekilapinfo

 

sekilap.info

 

Tik..tok..tik..tok..tik..tok..tik..tik..tik….

Rasanya malam ini jarum jam diam di tempat saja tidak mau mengerti dengan suasana hati. Menunggu tanggal 1 diawal bulan seperti menunggu Bang Toyib, yang katanya 3 kali puasa 3 kali lebaran nggak pulang-pulang, kurang lebih begitu tak kunjung datang. Huft… seolah hidup terasa susyah dan berat. Seolah… yaa hanya di hiperbola kan..tapi itu semua adalah sebuah realita hidup

Saya sering kali melihat hidup orang lain terasa begitu nikmat, ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah.

Saya juga sering melihat hidup rekan-rekan kantor saya, sahabat majelis, seakan tak ada duka dan kepedihan, ternyata mereka hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.

Saya sangat sering melihat hidup kerabat tenang tanpa ujian, dan ternyata beliau begitu menikmati badai ujian dalam kehidupannya. Menikmati ? yaa M E N I K M A T I … entahlah. Saya tak dapat mencerna kata ini dengan baik kedalam otak saya yang sekecil biji kedelai.

Saya juga melihat hidup sahabat saya begitu sempurna, ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya. Tanpa ada sandiwara yang disetting,ataukah hanya sebuah kisah hidup yang memang demikian…,Hhmmm……,

Saya melihat hidup tetangga sering beruntung, ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk tempat bergantung.

Harusnya saya tidak perlu iri hati dengan rejeki orang lain.

Maybe.. bukan mungkin lagi memang saya tidak tahu dimana letak rejeki saya, tapi rejeki itu tahu dimana saya berada. Dari lautan nan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkannya *rejeki menuju kepada saya.

Allah yang Maha Pengasih menjamin rejeki saya, sejak 9 bulan 10 hari dalam kandungan bunda. Lantas kenapa masih saya meragu ?

Amatlah keliru bila saya berkeyakinan bahwa rejeki dimaknai dari hasil bekerja. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusan-Nya. Bukankah begitu teorinya ?

Sedang saya pun tau melalaikan kebenaran demi mengkhawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda. Nyatanya, manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan di tinggal mati. Ohh.. Tuhan… ;-(

Saya sempat lupa, bahkan benar-benar lupa bahwa hakikat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya. Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sekehendak-Nya.

Ikhtiar itu perbuatan. Rejeki itu kejutan. Dan yang tidak boleh dilupakan, setiap hakikat rejeki akan ditanya kelak. “Darimana dan digunakan untuk apa ? “. Karena rejeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik”.

kiriman dari T.I.A.R.A

Leave a Reply