Menahan Gejolak Rindu

menahan gejolak rindu

Pinjam hatimu boleh ngga. Aku juga punya. Namun untuk saat ini. Kan kuwarnai hatimu. Seperti engkau mewarnai hatiku. Merah. Dimulai dari sekarang ya?

Pinjam jantungmu boleh ngga. Aku juga punya. Namun detik ini. Kan kudebarkan hatimu. Seperti engkau menggetarkan hatiku. Kencang. Dimulai dari sekarang ya?

Pinjam mimpimu boleh ngga. Aku tak pernah punya. Namun untuk malam ini. Aku inginkan mimpi indah. Bersanding berdua bersama dirimu. Melayang.

Dimulai dari sekarang ya? Seperti yang kau miliki.

 

“Hujannya awet banget yaa, kaya di formalin ajja”

Kata seorang rekan kerja saya sewaktu menunggu hujan reda di lobbi kantor. Saya hanya nyengir dengan menjawab

“ke kantin yuk, cari kopi sianida barang kali bisa bikin anget badan”. Hahahaha..

Tawa kami akhirnya pecah mengiringi merdunya rinai hujan yang jatuh ke bumi.

Hmmm.. Kalau sudah hujan begini bawaannya mager, galau dan baper. Hihihi.. kaya saya saat ini. Rasanya linduuuuu……(*rindu maksudnya)

Dalam selimut saya masih dapat bersembunyi dari dingin. Dengan berteduh saya pun dapat menghindar dari panas. Tapi kenapa saya tidak bisa melarikan diri dari rasa rindu? Kosong?

Kosong dari rasa cinta, tapi menyimpan rindu. Rindu hanya tercurah pada doa. Merindukan sosok yang masih tersembunyi. Bersembunyi oleh batas. Batas waktu dan jarak. Padahal hati tidak mencintai siapa-pun, tidak mengetahui rindu akan dialamatkan kemana hanya saja mungkin hati ini menyediakan tempat buat yang pantas untuk dicintai dan dirindukan.

Jika rindu dapat terlihat. Mungkin orang-orang akan mengasihani saya yang sedang merindu ini. Rindu erat kaitannya dengan penantian. Sebuah penantian itu sendiri adalah keharusan yang diterima diri untuk bertemankan rindu. Ketika masing-masing orang statusnya berubah menjadi halal. Rindu untuk menanti bersama kamu semakin menjadi-jadi. Itu yang saya rasakan sekarang ini.

BACA JUGA : Menunggumu Mengajarkan ku Apa Arti dari Kesabaran

Saya dan pekerja lainnya sama, sama-sama menunggu. Tapi bedanya, mereka menunggu hari yang sudah pasti. Contohnya hari dimana gajian, hari dimana liburan bareng keluarga atau rekan kantor. Sedangkan saya menunggu hari dimana saya pun tidak tahu kapan kamu datang. Hehehe… Saya menanti hari itu dengan doa. Tidak salahkan berdoa agar kamu jodoh saya?

Tapi seharusnya saya tidak perlu tergesa-gesa, nikmati saja rindu ini. Nampaknya Allah sedang menyuruh saya untuk belajar. Yaa… belajar menjadi pasangan yang baik untuk kamu nanti. Kamu yang di masa depan.

Entah siapa kamu dan dimana kamu. Langit kita masih sama kan? Pijakan kita masih tanah yang sama juga kan? Hanya berbisik pada sajadah. Agar tanah mengalirkan rindu ke tapak kakimu. Hingga segera kakimu datang untuk mengisi kekosongan. Siapa-pun kamu, segeralah isi kekosongan rindu ini.

Saya paham bahwa urusan jodoh memang diatur. Dan doa saya adalah bentuk berharap saya kepada Allah. Tapi, jika kamu bukan jodoh saya harapan saya masih tetap sama yaitu Allah. Allah pasti memberikan yang terbaik untuk saya. Saya juga sedang menanti hari itu. Yang terbaik untuk saya tentunya.

“t.i.a.r.a”

Leave a Reply