Sudut Pandangmu Itulah Hidupmu

SiMbah

Saat dinginnya pagi, tidak menyurutkan para jama’ah warung kopi yang ada di sudut kampung nan indah jauh dari kebisingan dan gemerlap keduniawian, dengan berselimut sarung mereka asyik antri untuk segera menikmati secangkir kopi murni menyambut indahnya pagi.

Diselingi canda dan tawa, mereka asyik membicarakan tentang tanaman padi mereka, ya karena mayoritas mereka adalah petani, kadang saya pun tertawa kecil melihat mereka saling berdebat karena berbeda pendapat, tetapi sama sekali itu semua tidak mempengaruhi kemesraan dan kebersamaan mereka sebagai jama’ah warung kopi. Mereka ini melihat segala sesuatu dengan banyak sudut pandang, kenapa ini bisa begini, mungkin karena ini, mungkin kurang ini, mungkin salah ngasih ini, dan lain lainnya.

 

Menyikapi Segala Hal Dengan Berbagai Sudut Pandang

 

Dari obrolan mereka ini, saya menangkap bahwa menyikapi segala sesuatu itu, baik yang terlihat,terdengar, atau hanya sekedar terbaca, haruslah dengan berbagai sudut pandang, dengan begitu logika dan cara berpikir akan menjadi lebih bijak dan tidak mudah untuk di pengaruhi oleh apapun dan di bungkus seindah apapun itu.

Tak lama berselang, hidangan kopi sudah mulai di sajikan satu persatu, dan bertepatan dengan itu datanglah seorang lelaki tua, kami biasa memanggilnya mbah ( lha karena sudah tua ), beliau duduk, menyalakan sebatang rokok dan memesan secangkir kopi. Tanpa ada yang bertanya, beliau bergumam ;
“Ngopo tho yoo….kok saiki akeh sing rumongso dadi Gusti Allah” ( kenapa yaa, kok sekarang ini banyak yang seakan-akan menjadi Gusti Allah ).

Saya yang duduk di dekatnya langsung menanyakan, kenapa beliau berkata demikian ; “Lho sinten tho Mbah sing Ngganteni Gusti Allah Niku” ( siapa tho mbah yang menggantikan Allah itu )

Dan terjadilah dialog antara saya dan para jama’ah dengan si Mbah :

SiMbah : “ Lha kui tho, wes iso ngatur-ngatur yen iki salah yen iki bener, wes iso ngarani wong liyo kui ga duwe iman lan kafir “ ( Lha itu lho, udah bisa mengatur mana yang benar mana yang salah, sudah bisa mengatakan bahwa orang lain itu ga punya iman bahkan kafir )
Jama’ah : “Terus nopo hubungane kok malih dadi Gusti Allah Mbah” ( terus apa hubungannya kok seakan menjadi Gusti Allah Mbah )
SiMbah : “Lha iyo tho, kui kabeh mau kan urusane Gusti Allah, Kok sak enak’e dewe melu ngurusi urusane Gusti Allah, opo mbiyen do nggak belajar Tauhid yo” ( Lha iyaa kan, semua itu tadi kan urusan dan Haknya Gusti Allah, kenapa seenaknya sendiri ikut campur urusan Gusti Allah, apa dulunya mereka ini tidak belajar Tauhid ) .
Kami semua jama’ah warung kopi terdiam, tidak ada kata yang bisa kami ucapkan,dan SiMbah ini pun melontarkan pertanyaan kepada kami :

SiMbah : “Wong-wong saiki do pinter opo keminter ??” ( Orang-orang sekarang itu sebenarnya pintar atau merasa pintar ???)
Jama’ah : “Mboten Ngertos Mbah” ( nggak tau mbah ).
SiMbah : “Yen do pinter,titele akeh kae,kudune lak yo ngerti tho, yen oleh opo-opo,krungu opo-opo,ndelok opo-opo,lak yo kudune di goleki disik bener orane,ora mung langsung njeplak lan mangap,di sebarne lan di omongne koyo deweke kie wes ngalami lan ngerti asline” ( kalau memang pintar,punya banyak gelar,harusnya kan tau dan mengerti,kalau mendapat apa-apa,mendengar apa-apa,melihat apa-apa,harusnya dicari dulu kebenarannya,bukan langsung asal disebarkan kaya dia sendiri itu sudah paham dan mengalaminya sendiri )
Jama’ah : “ Terus sing sae dos pundi Mbah,ben awak dewe ngeten niki di tebihaken saking ngoten niku??” ( caranya yang benar seperti apa mbah,biar kita-kita ini di jauhkan dari hal-hal yang demikian itu )
SiMbah : “ Ngerti huruf hijaiyah tho,contone alif,alif iso dadi A,iso dadi I,iso dadi U,mergo di sandangi,ndelok opo-opo kuwi ojo mung soko ngarep,deloken soko samping,soko mburi,soko ngisor,soko nduwur,soko atimu,ojo mung manut soko nafsu pikiran lan karepmu,mergo podho karo karepmu langsung mbok anggep bener,cilaka lho kowe ngko” ( Tau huruf hijaiyah kan,contohnya alif,alif itu bisa menjadi A,bisa menjadi I,bisa menjadi U karena di beri tanda baca,melihat segala sesuatu itu jangan hanya dari sudut pandang,banyak sudut pandang bisa dari depan,samping,belakang,bawah,atas dan dari hatimu,jangan hanya mengikuti hawa nafsu pikiran dan keinginanmu, hanya karena sama dengan cara pikir dan keinginanmu langsung kamu anggap itu benar,berbahaya dan bisa celaka lho kamu nantinya )
Jama’ah : “ Sampai semonten nggeh mbah resikone”( sampai seperti itu ya mbah resikonya ).
SiMbah : “ Yo is aku pamit disik,kabeh mau ojo mbok pikir karo pikiranmu,rasakne nggawe atimu” ( Ya sudah, saya pamit dulu, semua itu tadi jangan kamu pikirkan dengan kekuatan pikiranmu,tetapi rasakanlah dengan ketulusan Hatimu )
Jama’ah : “ Nggeh Mbah matursuwun,atos-atos nggeh mbah” ( Iya mbah terima kasih,hati-hati ya mbah)

Itulah sedikit obrolan kami, dengan seorang kakek tua, yang jika dilihat dari luar, hanyalah seorang petani biasa, tetapi kedalaman ilmunya tidak bisa kita anggap remeh hanya karena beliau siapa.

Dari obrolan itu saya membuat sebuah kesimpulan, jika kita melihat,mendengar,membaca sesuatu haruslah di cari dulu kebenarannya.
Menyikapi sesuatu kejadian pun harus dari berbagai macam sudut pandang, karena apa yang terlihat itu belum tentu sama dengan apa yang tersirat.

_salam_
“tembangtafakuran”

 

 

 

 

 

Leave a Reply