Wani Ngalah Dhuwur Rekasane, Mengalah Bisa Menuai Kesengsaraan

wani ngalah

Dalam artian yang sesungguhnya orang yang mengalah itu sebenarnya punya potensi untuk menang, tetapi dia lebih memilih memberikan kesempatan kepada orang lain, meskipun berada dalam posisi yang bisa dipastikan menang, dia merasa lebih baik untuk mengalah.

Dalam kehidupan dan pergaulan antar sesama manusia yang beradab serta menjunjung tinggi moral dan adab sopan santun,sikap mengalah ini adalah suatu tindakan yang mulia,dan orang yang bersedia mengalah pasti mempunyai budi pekerti dan cara berpikir yang luhur.

Namun hal itu sekarang sudah jauh berbeda,realita yang terjadi di lingkup masyarakat justru menganggap bahwa orang yang mau mengalah akan sengsara “Ngalah Dhuwur Rekasane

 

Mengalah Dianggap Kalahan

 

Bagi orang yang berhati mulia dan berpikiran secara luas, suatu masalah ataupun konflik jika bisa diselesaikan secara damai,demi kebaikan orang banyak,maka dia akan memilih untuk mengalah, karena dengan sikapnya ini suatu persoalan yang rumit atau berpotensi menimbulkan perpecahan akan bisa terselesaikan tanpa adanya huru hara yang berakibat kerugian bagi orang banyak.

Tetapi hal ini bertolak belakang dengan realita yang ada di kehidupan, orang yang berani mengalah untuk kepentingan bersama , justru dianggap sebagai orang yang tidak mempunyai nyali ataupun keberanian,dan dianggap selalu kalah oleh masyarakat sekitarnya.

Karena itulah banyak orang yang tidak mau memposisikan diri mereka sebagai pihak yang mau mengalah, bahkan dalam keadaan salah pun seseorang akan tetap merasa bahwa benar,yang akhirnya akan muncul sikap mau menang sendiri,egois dan tidak mau menerima kesalahan serta kenyataan.

Ungkapan “wani ngalah dhuwur rekasane” sebenarnya adalah sebuah sindiran atau plesetan dari pepatah jawa yang aslinya “wani ngalah luhur wekasane” yang dalam artian yang sesungguhnya kurang lebih adalah “orang yang berani untuk mengalah demi kebaikan bersama akan mendapat manfaat dan kemuliaan nantinya” jika ungkapan ini di pahami dan diwujudkan secara benar dalam kehidupan sehari-hari,ini akan membawa kebaikan,dan mendatangkan banyak manfaat serta hal positif dalam lingkungan masyarakat,rasa saling menghormati,saling membantu tanpa ada yang merasa paling dibutuhkan atau paling menangan ( selalu menang ).

Semua ini berbanding terbalik dengan realita kehidupan yang terjadi saat ini,dimana orang yang selalu menang akan dihormati, disegani bahkan di takuti, karena secara logika pun orang akan lebih hormat kepada orang yang selalu menang, dan menganggap remeh orang yang mau mengalah. Karena orang yang selalu menang itu dianggap benar dan orang yang mau mengalah itu pasti salah.

 

Mengalah Untuk Menang

 

Sikap mengalah sebenarnya adalah suatu sikap yang mulia , tetapi masih jarang orang yang mau bersikap seperti ini, karena secara mendasar manusia pasti ingin selalu berada dalam posisi menang,bahkan dengan cara apapun akan di tempuh dan dilakukan hanya untuk dianggap sebagai orang yang selalu menang dalam segala bidang.

Berbeda dengan orang yang bisa berpikir secara bijak dan terbuka,mereka akan berani mengalah demi kebaikan bersama karena suatu saat pasti akan terbukti siapa sebenarnya yang menjadi pemenang atau orang yang seharusnya menang, kemenangan bagi mereka bukan semata-mata kemenangan secara fisik atau lahiriah saja,tetapi kemenangan secara moral atau batiniah yang memang tidak bisa di bandingkan dengan apapun.

Seperti suatu ketika ada seseorang yang lebih baik mengalah atas suatu masalah yang seharusnya bisa dimenangkannya karena demi kebaikan bersama dalam kehidupan bermasyarakat,maka hal ini akan memberikan suatu nilai positif bagi masyarakat sekitarnya , dan inilah sebuah kemenangan moral yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

Penilaian positif dari masyarakat tentu akan membawa suatu berkah dan kemudahan dalam berbagai hal, bisa berupa dalam hal pekerjaan, selalu mendapat bantuan tanpa diminta,dan banyak lagi yang lainnya,hal inilah yang disebut “mengalah untuk menang”  yaitu menjadi orang mulia, terhormat dan sejahtera di kemudian hari nanti.

 

_salam_
“tembangtafakuran”

 

Leave a Reply